Menu

Mode Gelap

News · 14 Des 2023 05:16 WIB ·

Begini Respon Asosiasi Wisata di Labuan Bajo Terkait Perubahan Tarif Jasa Pemandu di TNK


 Begini Respon Asosiasi Wisata di Labuan Bajo Terkait Perubahan Tarif Jasa Pemandu di TNK Perbesar

Ayonusantara.com-Sejumlah asosiasi wisata di Labuan Bajo menyampaikan tanggapan terkait adanya penyesuaian tarif jasa wisata alam (jasa pemandu) di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Selain keluhan terhadap penyesuaian tarif jasa pemandu asosiasi wisata juga menyampaikan tanggapan terkait minimnya penyediaan saran dan prasarana penunjang dibeberapa tempat wisata.

Bonavantura perwakilan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) menanyakan tarif jasa pemandu dibeberapa tempat wisata.

“Apakah Rp. 400.000 itu dibagi 200 ribu di Pulau Padar dan 200 ribu di Pulau Komodo, mohon penjelasannya pak,” ungkap Bonavantura saat sesi tanya jawab dalam kegiatan Konsultasi Publik Penyesuaian Tarif Jasa Wisata Alam ( Jasa Pemandu ) di Loh Liang Pulau Komodo dan Padar Selatan Pulau Padar yang dilaksanakan di Hotel Grand Perundi, Labuan Bajo, Senin (11/12/2023).

Ketua DPD HPI NTT, Itho Pance mengatakan penyesuaian tarif Rp. 400.000 itu terlalu tinggi.

“Kalau menurut saya angka Rp. 400.000 itu terlalu tinggi, mungkin kita coba berlahan kalau selama ini di Rp. 120.000 saya usulkan diangka Rp. 150.000. Karena selama ini juga kita amati rangernya lumayan banyak dengan harga tiket seperti ini , dan kita pahami seperti biaya operasional dan lain-lain, jadi usulan saya diangka Rp. 150.000,” ungkapnya.

Hal lain juga sampaikan oleh Getrudis Naus perwakilan dari Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) menyebut tarif itu tidak bisa berlaku kalau fasilitas yang kita siapkan itu belum memadai itu persoalan.

“Kalau PT Florbamor melakukan peningkatan fasilitas itu, saya rasa semua pengusaha akan setuju dengan harga seperti itu,” ungkapnya.

Kata Getrudis perluh diketahui bahwa travel agen sudah buat agreement dengan agen luar sampai tahun 2025 sehingga penerapan tarif Rp. 400.000 itu perluh dipertimbangkan lagi. Artinya kerja dari travel agen itu tidak serta merta dia booking hari ini langsung jadi dan tahun 2024 itu sangat tidak mungkin untuk harganya naik.

“Saya rasa harga 150 ribu itu tadi terlalu tinggi kalau kita tetapkan di tahun 2024. Kami paham berapa orang ranger disana dan tentu ada kalkulasinya tetapi coba dipahami naiknya berapa, jangan sampai naiknya itu mencekik pelaku pariwisata,” ucapnya.

Senada juga disampaikan oleh Yakobus Stefanus perwakilan ASITA mengatakan persoalan tarif harus sesuai dengan fasilitas yang ada.

Menurut Yakobus pemberlakuan tarif perluh dilakukan dialog lagi sehingga PT Florbamor bisa menyampaikan gambaran atau penjelasan terkait dengan adanya penyesuaian harga tersebut.

“Kemudian tentang pemberlakuan perluh beberapakali dialog supaya kita lebih mematangkan dan dari PT Florbamor bisa menyampaikan dari beberapa hal terkait dengan adanya penyesuaian harga tersebut,” ucapnya.

Sementara, Direktur Operasional PT Flobamor, Abner Runpah menanggapi usul saran dari perwakilan asosiasi wisata yang hadir terkait penyesuaian tarif di beberapa tempat pariwisata. Abner menjelaskan penyesuaian tarif di pulau Padar dan Komodo itu masing-masing Rp. 400.000

“Konsep kami dalam penerapan tarif tersebut itu masing-masing di pulau Padar Rp. 400.000 di pulau Komodo juga demikian. Jadi kembali lagi kita perluh konsultasi publik seperti ini,” ungkapnya.

Abner menjelaskan tarif Rp. 120.000 per Lima orang itu hanya mencukupi biaya operasional sedang untuk biaya konservasi selama ini pihaknya meminta bantuan dari pihak lain yang ada di Kupang, Jakarta bahkan di luar negeri.

“Kemudian terkait persentase dari Rp. 400.000, ini jujur mungkin saya buka sedikit dan saya tidak mau ini menjadi tawar-menawar cuman mungkin lebih tepat kita harus membuka dapur kita sedikitlah biar teman-teman mempunyai gambaran sedikit bahwa Rp. 120.000 per lima orang ini hanya cukup operasional kami saja sedangkan untuk konservasi mungkin kepala balai juga tahu bahwa ada rekan-rekan kami yang ada di Kupang, Jakarta maupun di luar negeri yang menyumbang untuk patroli, perbaikan fasilitas dan juga pelatihan terhadap naturalist guide warga desa komodo yang 30 orang itu kita dapat dari CSR dari partnert-parnert kami di Jakarta jadi gratis,” ucapnya.

“Tentunya banyak orang peduli sebenarnya tetapi kepedulian mereka inikan kita tidak bisa manfaatkan atau seolah-olah kita menjual Labuan Bajo, pulau Komodo supaya orang kasih CsR tapi tidak begitu juga. Kalau kita sepakat Rp. 400.000 itulah sisanya itulah untuk konservasi, kira-kira seperti itu,” lanjutnya.

Ia juga mengatakan penyesuaian tarif ini tidak hanya meningkatkan pelayanan tetapi juga melestarikan, bekerja sama dengan BTNK melestarikan lingkungan.

Sedangkan Konsultasi publik ini, kata dia untuk menyerap sebanyak mungkin kebutuhan atau keinginan dari masyarakat pelaku pariwisata.

“Kemudian terkait paket wisata yang sudah terjual sampai tahun 2025 tentunya kita memperhatikan semuanya itu,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Wartawan

Baca Lainnya

PMBB Bersama Pemcat Komodo Adakan Baksos di Kuliner Wisata Kampung Ujung 

8 Juni 2024 - 09:46 WIB

Klarifikasi Ketua FOKAL Labuan Bajo Soal Besaran Uang Pangkal dan Dasar Hukum Pendirian

31 Mei 2024 - 13:24 WIB

Residivis Pencuri HP Asal Welak Kembali Diamankan Polisi di Labuan Bajo

23 Mei 2024 - 10:00 WIB

Terima Kunjungan PJ Bupati Sala Tiga, Bupati Edi Endi Berikan Gambaran Dalam Menjaga Toleransi di Mabar 

22 Mei 2024 - 17:54 WIB

Respon Pemberitaan Sejumlah Media, Bupati Manggarai Barat Tegaskan LHKPN 2023 Sudah Dilaporkan 

22 Mei 2024 - 05:31 WIB

Anggota DPRD Mabar Pertanyakan Status Kepemilikan Tanah Kerangan Labuan Bajo

16 Mei 2024 - 16:47 WIB

Trending di News